“Setitik Harapan”
Struktur
teks
|
Kalimat
|
Orientasi
|
Namaku Anggun putri nazila. Biasanya
aku dipanggil Anggun. Aku adalah seorang gadis berusia 13 tahun yang tinggal
bersama kakakku. Kakakku bernama Dinda nazila putri aku biasa memanggilnnya
kak Dinda dan ia sekarang berusia 17 tahun. Ayah dan ibuku sudah meninggal 1
tahun yang lalu. Sebelum orang tuaku meninggal, keluarga kami adalah keluarga
yang kaya, tetapi perusahaan ayahku bangkrut karena banyak hutang. Kedua
orang tuaku meninggal pada sebuah tragedi yang sangat tragis. Sejak itulah
aku dan kakakku memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja demi memenuhi
kebutuhan hidup.
Aku tinggal di sebuah gubuk dekat
sawah, yang jauh dari kota. Rumah lama kami disita untuk membayar
hutang-hutang perusahaan ayahku. Kami hanya tinggal berdua saja. Pekerjaanku
setiap hari berdagang jajanan pasar di desa dekat rumah kami.
|
Komplikasi
|
“Kak
bangun sudah subuh” kataku membangunkan kakakku.
“5 menit
lagi” sembari menarik selimutnya
“Ayolah
kak, marilah kita sholat bersama” kataku sambil menggoyangkan tubuhnya yang
bersembunyi dibalik selimut.
“Oke oke aku bangun” jawab kak Dinda
sambil bangun dari tidurnya.
***
Pagi telah tiba, waktu kami untuk
berjualan. Aku dan kakakku berjualan secara terpisah, aku di desa sebelah dan
kakakku di desa seberang. Kami berjanji pulang sebelum waktu matahari
terbenam.
“Aku heran, mengapa semakin hari
pelangganku berkurang? Apa jajananku sudah tidak enak lagi? Aku yakin mereka
sudah tidak suka jajanan pasar tetapi mereka lebih suka jajanan buatan
pabrik” kataku dalam hati.
Akhirnya aku memutuskan untuk
berjualan di depan sekolah dekat kota. Sekolah itu bernama SMP Nusa Bangsa.
Saat di rumah aku dan kakakku saling berbagi cerita tentang apa yang kami
rasakan masing- masing.
“Kak,
pelangganku semakin berkurang, sehingga aku sekarang sudah tidak berjualan di
desa seberang lagi kak” kataku
“Lalu,
kamu sekarang berjualan dimana?” tanya kak Dinda
“Sekarang
aku berjualan di depan Smp Nusa Bangsa. Sekolahnya bagus kak, anak- anaknya
juga tampak bahagia. Aku ingin bersekolah disana kak” kataku.
“Kalau begitu jika kamu berjualan
disana kamu naik apa? Sekolah SMP Nusa Bangsa kan jauh” tanya kakak kepadaku.
“Kita kan punya sepedah kakak,
walaupun sepedah itu sudah lama yang penting aku bisa memakainya untuk pergi
ke sekolah SMP Nusa Bangsa” Jawabku.
“Ya sudah kalau begitu, kamu tidur dulu
saja agar besok kamu tidak kelelahan saat berjualan di sana” kata kakak
“Baiklah kak” jawabku.
***
Keesokan harinya, aku berangkat ke
SMP Nusa Bangsa dengan sepeda lamaku. Aku hari ini akan berangkat lebih siang
karena menanti jam pulang di sekolah itu. Di hari penjualan pertama jualanku
habis terjual tanpa sisa, dan seterusnya pun juga habis terjual. Suatu saat
aku bertemu seorang wanita karir yang turun dari mobilnya dan menghampiriku.
“Dik saya mau beli semuanya, berapa
harganya dik?” Tanya wanita itu sambil mengambil dompetnya.
“Semuanya 20 ribu bu” jawabku.
“Ini uangnya” kata wanita itu sambil
memberiku uang 50 ribu.
“Ini kembaliannya 30 ribu” kataku
sambil memberikan kembalian.
“Oh tidak perlu, adik ambil saja”
kata wanita itu sambil menolaknya.
“Terima kasih bu” kataku dengan
gembira.
Aku selalu pulang lebih awal dengan
membawa uang lebih banyak dari biasanya, semenjak ibu itu selalu memborong
daganganku. Kakakku terheran-heran, ia ingin membuktikannya. Akhirnya aku dan
kakakku berjualan bersama di sekolah itu. Seperti biasanya ibu itu datang dan
memborong daganganku dengan uang lebih. Dan akhirnya kakak pun percaya
kepadaku bahwa daganganku selalu terjual habis karena diborong oleh ibu itu.
|
Resolusi
|
Keesokan
harinya, sebelum ayam berkokok, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku.
“Tok-tok-tok” seseorang mengetuk
pintu rumahku.
“Oh iya sebentar” kata kakakku
sembari membukakan pintu.
Saat kakakku membuka pintu, ternyata
itu adalah ibu yang selalu memborong dagangannku.
“Ada perlu apa bu?” tanya kakakku
terkejut melihat ibu itu dengan suaminya.
“Nak, sebenarnya kedatangan ibu
disini menjemput kamu dan adikmu” kata ibu itu.
“Aku dan adikku mau dijemput karena
apa?” tanya kakakku penasaran.
“Nak, ibu ini sebenarnya tidak punya
anak, suami ibu juga sudah setuju untuk mengadopsi kalian” jawab ibu itu
“Setelah ibu perhatikan, sepertinya
kalian hanya tinggal berdua saja. Sebenarnya hari itu ibu mengikuti adikmu
pulang menuju rumah. Dari situ, ibu tau bahwa hanya ada kamu dan adikmu saja
dirumah. Benarkah bahwa orang tua mu sudah tidak ada?”
“Iya bu, orang tua kami sudah
meninggal 1 tahun yang lalu” jawab kakakku
Ibu itu bergegas membawa kami ke
mobilnya dan menuju ke rumahnya. Sebelum sesampai di rumahnya ibu itu
mengajak kami untuk berbelanja pakaian baru dan langsung menuju ke rumahnya.
Sesampai di rumahnya, suami ibu itu memberi kami masing-masing sebuah kunci.
“Mulai sekarang kalian adalah anak
kami. Ini adalah kunci kamar kalian. Kamar kalian ada dilantai 2” kata suami
ibu itu.
“Iya pak” jawab kami.
“Oh iya, mulai sekarang kalian
panggil kami papa mama” kata ibu itu sambil tersenyum manis.
“Iya bu eh, maksudku mama” jawabku
sambil tersenyum lebar. Lalu, kami tertawa bersama dan mulai hari ini kami
menjadi keluarga baru yang bahagia. Sejak saat itu, keinginanku dapat
terwujud yaitu aku bisa bersekolah di SMP Nusa Bangsa.
|